[Artikel] Keo Budiharijanto, Memadukan Seni dengan Teknologi

profil-keo1.jpg
Keo Budiharijanto – foto : Lendy Widayana/IDD

Berkarya sebagai kartunis dan dunia seni rupa sejak tahun 1973, Keo Budiharijanto yang akrab disapa dengan Pak Keo, telah masuk debut nasional sebagai ilustrator berbagai media, majalah dan buku.

Tahun 2000 Keo mengalami sakit pinggang yang sangat akut. Sakit itu membuat Keo mengalami depresi. Teman-teman sejawatnya sampai harus memaksa dan memberi semangat Keo untuk dapat berjalan. Di tengah ketidakberdayaan secara fisik, pria kelahiran Malang 1959 masih menyimpan semangat yang luar biasa untuk berkarya. Keo berusaha ekstra keras untuk mempelajari sendiri operasional komputer. Keo mengaku sering bingung jika belajar dari buku. Maka setiap untaian dan rangkaian menu software aplikasi untuk aplikasi grafis dan editing foto pun coba ia mengerti sendiri. Sebongkah catatan pengalaman menelusuri setiap menu ia kumpulkan menjadi bahan ingatan.

tanda-kegigihan1.jpg
Catatan Keo – merupakan tanda kegigihan – foto : Lendy Widayana/IDD

Bukan hanya menggunakan komputer sebagai tools (alat). Keo berpikir dan merasakan adanya kolaborasi dengan komputer. Ia menyebut komputer sebagai teman sejati dalam berkarya. Komputer adalah saluran ekspresi sekaligus untuk menyimpan banyak ide yang ia miliki.

Tahun 2000 ia memulai kolaborasi dengan komputer. Ratusan karya yang bersifat final di komputer, ia pindahkan menjadi 50 karya di atas kanvas dan 20 karya ink on paper. Transformasi karya dari komputer ke kanvas pasti mengalami pergeseran. Pengembangan dan sentuhan manusia belum dipenuhi di komputer. Dalam hal raster dan efek tiga dimensi di atas kanvas, kecekatan manusia secara langsung belum tertandingi oleh komputer. Namun demikian Keo berpendapat, bahwa karya yang hanya berada di komputer dapat juga dianggap karya yang telah selesai. Namun apresiasi masyarakat di Indonesia, bahkan para kurator dan kalangan akademisi banyak yang belum memiliki apresiasi terhadap karya yang final di layar komputer.

batas-dua1.jpg
“Batas Dua” – karya Keo

Karena keterbatasan fisiknya dalam berkarya, Keo beranggapan bahwa fotografi sangat menunjang untuk menyimpan pikiran-pikiran visualnya, ujar pengguna kamera Fuji Finepix S5000 ini. Karena keterbatasannya pula Keo menggunakan model dari orang-orang dekatnya seperti ayah, isteri dan anaknya sebagai obyek karya.

Penguasaan yang matang tentang pengolahan citra dengan komputer dan gagasan yang tanpa batas, ditunjang dengan fotografi membuat ia merasakan banyak kejutan-kejutan dalam berkarya. Menurut Keo, ada nilai kepuasan yang ia dapatkan baik karya final di komputer maupun di kanvas.

Keo mempunyai prinsip bahwa segala sesuatu dimulai dari titik. Dari hal kecil. Kini Keo telah mengenal kata pixel dalam ungkapan-ungkapannya. Karena keterbatasan fisik, banyak waktu yang ia gunakan untuk merenung. Pixel menjadi awal inspirasi jiwa Keo agar kita sebagai manusia dapat menghargai hal-hal yang kecil dan sederhana.

body-rasional-1.jpg
“Body Rasiona” – karya Keo

Kini proses berkarya Keo dilakukan dengan membuat simulasi terlebih dahulu di komputer. Torehan di komputer selanjutnya menjadi dasar bagi besutan karya selanjutnya di atas kanvas.

Mengapa ia mengambil sisi rupa realis ? Teknik realis diambil untuk merespons kondisi sekarang tandasnya. Ada yang bilang new realis. Dikalangan seniman, karya-karya Keo banyak disebut sebagai realis fotografis dan pointilisme. Sehingga ia menjadi inspirator bagi rekan-rekan seprofesinya.

Internet

Melalui Internet Keo menganggap ia dapat melakukan dialog dengan banyak nyawa. Menurutnya Internet sangat memudahkan ia belajar dan mengetahui kemajuan seni. Banyak referensi dari negara-negara yang tidak ada publikasinya seperti seni di Eropa Timur dan Uni Soviet ia dapatkan justru dari Internet. Yang paling berharga adalah ia mendapatkan banyak referensi dari hal-hal yang paling teruji di luar negeri. Semua itu akhirnya memberi pemahaman inti dari kesenian yang memberi nilai pada hidup. Suami dari Melia Suphandi (44) dan ayah dari Marina Suryani (12) ini adalah pengagum karya Van Gogh dan Nazhar yang menurutnya kedua tokoh itu mempunyai semangat tinggi dalam berkesenian.

Dengan kesederhanaannya ia mengaku sekecil apapun yang penting berbuat sesuatu bagi bangsa. “Opo kene isone mek ngritik thok?” – apa kita bisanya cuma mengkritik ? mengakhiri pembicaraan malam itu.

Teks : Lendy Widayana/IDD.

Artikel ini telah dimuat di Netsains.Com


About this entry