[Artikel] 53rd Singapore International Photography Award.

Oleh : Agus Leonardus AFIAP, AFPSI****

SALONFOTO rupa – rupanya kini sudah tidak populer lagi di kancah fotografi internasional.

Paling tidak hal ini terbukti ketika klub foto terbesar dan paling populer di Singapura, yaitu Photographic Society of Singapore ( PSS ), berdiri tahun 1950 dan diakui oleh FIAP, berusaha untuk merubah image salonfoto mereka. Setelah menyelenggarakan salonfoto sejak tahun 1950., pada tahun 1957 salonfoto PSS ditetapkan dengan nama The Singapore International Salon of Photography ( SIP ).

SIP termasuk salah satu salonfoto internasional yang paling bergengsi dan selalu diikuti oleh pemotret-pemotret salon terkenal di dunia.

Memasuki tahun 2000 pengurus dan anggota PSS, terutama yang berjiwa muda, merasa bahwa foto dalam even salonfoto cenderung sangat lambat perkembangannya.

Foto yang tampil dalam sirkuit salonfoto internasional seringkali mirip satu dengan lainnya, alias miskin kreatifitas. Perlu diketahui, ada lebih dari seratus salonfoto internasional di seluruh penjuru dunia, tidak termasuk Indonesia karena salonfoto Indonesia bersifat lokal, yang masuk dalam sirkuit salonfoto dibawah naungan FIAP dan PSA ( Photographic Society of America ).

Kritik terhadap salonfoto sebenarnya sudah lama terjadi. Dalam buku yang sangat terkenal “ The Creative Photographer “, terbit tahun 1955, tertulis bahwa foto yang ada dalam kancah salonfoto adalah foto – foto yang klise dan completely meaningless. Padahal yang paling tidak termaafkan dalam fotografi adalah meaningless photograph. Demikian tulis Andreas Feininger pengarang buku tersebut. Menurut David PC Tay ( Presiden PSS ) dan Steven Yee ( Salon Chairman ) ketika ngobrol dengan penulis, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan agar para peserta mengirimkan foto yang lebih bervariasi, kreatif dan tidak klise, maka pada tahun 2000 nama even tahunan ini dirubah menjadi The Singapore International Salon of Creative Photography ( SICP ) . Kata salon tetap dipertahankan, kata creative ditambahkan. Hasilnya, ternyata hingga tahun 2005 tidak ada perubahan pada style foto yang masuk. Foto – foto klise tetap mendominasi.

Karena dirasa usaha ini kurang berhasil, maka pada tahun 2006 nama even dirubah lagi menjadi Singapore International Photography Award ( SIPA ). Penghapusan kata salonfoto dimaksud untuk membedakan even ini dengan salonfoto konvensional yang selama ini dikenal. Kenyataannya salonfoto memang mulai ditinggalkan oleh para penggemar fotografi karena dinilai membosankan. Foto yang masuk dan memenangkan salonfoto dari tahun ketahun tidak banyak berubah, sehingga membosankan. Sebenarnya hal ini sudah dirasakan cukup lama oleh para pengurus PSS sehingga mereka menambah kata creative pada even salonfoto PSS di tahun 2000. Tetapi rupa – rupanya sekedar penambahan kata kreatif ini tidak membawa perubahan yang berarti pada karya foto para peserta. Sehingga akhirnya diputuskan kata salon dan creative dihilangkan sama sekali.

Dengan dihapusnya kata salonfoto apakah lalu seketika terjadi perubahan gaya foto pada even yang bersifat internasional ini ?. Kita simak saja hasil “ salonfoto “ PSS tahun 2006 yang baru saja berlangsung dimana pada even ini kata salonfoto sudah ditiadakan.

“ 53rd Singapore International Photography Award 2006.

Penulis berkesempatan menghadiri penjurian SIPA 2006 yang merupakan even penerus salonfoto yang diselenggarakan oleh PSS sejak tahun 50-an. SIPA 2006 merupakan even yang ke – 53, sehingga disebut “ 53rd Singapore International Photography Award 2006 “.

SIPA 2006 terdiri atas lima kategori yaitu Digital Colour Open , Digital Monochrome , Digital Nature ( Colour ), Digital Travel ( Colour ) dan Digital Experimental. Diikuti oleh pemotret dari 28 negara, dengan jumlah foto sebanyak 2158 foto. Sesuai dengan perkembangan jaman dan untuk lebih memudahkan peserta serta panitia, peserta diwajibkan mengirim karya berupa soft copy dan penjurian dilakukan dengan mempergunakan proyektor..

Yang menarik dari jalannya penjurian yang dilaksanakan di Novotel Batam ini adalah begitu efisiennya kerja panitia. Untuk even yang sifatnya internasional dan terdiri atas lima kategori ini, praktis yang bekerja tidak lebih dari empat orang dengan hanya satu laptop. Penjurian oleh lima orang juri untuk setiap kategori paling lama hanya berlangsung selama 3 jam saja !. Bandingkan dengan penjurian salonfoto Indonesia yang makan waktu selama 8 jam, kadang lebih, untuk satu ketegori, padahal panitia terdiri dari puluhan orang dengan dilengkapi komputer dan system yang sangat canggih.

Hasil penjurian.

Seperti biasanya pada kategori kelas umum, di SIPA disebut Digital Colour Open, jumlah peserta selalu paling banyak. Kali ini tercatat ada 160 peserta dari 28 negara dengan 625 foto. Hasilnya terdapat 101 foto accepted. Nilai tertinggi memperoleh Medali Emas diperoleh foto berjudul “ Cow Race “ karya Hoang Quoc Tuan ( Vietnam ), sedangkan nilai tertinggi kedua mendapatkan Medali Emas FIAP diperoleh potret “ Madame Rosa “ karya Markoglou Dimitros dari Greece. Foto yang menarik karena menampilkan tema yang baru adalah “ Brown Eye “ memperoleh Medali perak FIAP.dan “ Gothenbourg Port “ memperoleh Tanda Penghargaan. Keduanya karya fotografer Swedia, Jonny Wiktorsson. Pada daftar pemenang Tanda Penghargaan terdapat dua fotografer Indonesia yaitu Hendro Dharmawan dan Deddy H. Siswandi.

Pada kategori Monokrom yang diikuti 114 peserta dengan 442 foto, Elek Papp dari Hungaria memborong nilai tertinggi untuk dua foto potretnya “ The Ill Lamb “ dan “ Joy of The Music “.Sedangkan foto “ Villagers “ karya Orest Lizhechka, Ukraina, memperoleh Medali perak. Peserta dari Indonesia , Hendro Dharmawan memperoleh dua penghargaan berupa Medali Perunggu ( “ Focus “ ) dan Tanda Penghargaan ( “ Ironman “).

Foto laba-laba berjudul “ Araneus Diadematus “ karya Helimaki Jusei, Finlandia, memperoleh nilai tertinggi pada kategori Nature. Medali Emas FIAP diperoleh Mohammed Arfan dari Uni Emirat Arab. Medali Perak oleh Rizzato Pierluigi, Itali. Medali perunggu dimenangkan Fong Chee Wai, Singapura. Ada tiga peserta Indonesia yang memperoleh Tanda penghargaan yaitu Agatha Bunanta, Effendy Suryajaya dan Dedy H. Siswandi.

Peserta tuan rumah, Singapura, memborong kemenangan pada kategori Travel.

Sng Mee Sang memperoleh nilai tertinggi dengan foto berlokasi di Bali, diikuti oleh Ang Boon Hock, Medali Emas ,Michael Ee, Medali Perak dan Lee Leng Eng mendapat Medali Perunggu. Peserta Indonesia yang memperoleh Tanda Penghargaan pada kategori Travel adalah Peters Vincen, Ricky Alexander dan Andreas Mesakh, semuanya berdomisili di Batam.

Kategori dengan jumlah peserta paling sedikit yaitu kategori Experimental, diikuti oleh 73 peserta dari 21 negara dengan 306 foto. Pada kategori ini foto berjudul “ Cat and Mouse “ karya Gho Peng Tjin dari Singapura berhasil memperoleh nilai tertinggi, diikuti oleh Palfrader Josep dari Austria memperoleh Medali Emas dan Perak. Medali Perunggu direbut oleh peserta dari Spanyol, Isabel Casellas. Sedangkan Dedy H.Siswandi dan Budi Darmawan dari Indonesia memperoleh Tanda Penghargaan bersama 9 foto karya fotografer lainnya.

Prestasi pemotret Indonesia.

Sebagai peserta kedua terbesar sesudah tuan rumah, para pemotret Indonesia memperoleh hasil yang cukup menggembirakan. Dari 269 entry yang dikirim, foto yang terpilih ( accepted ) sebanyak 33,8 % atau 91 foto. Sedangkan pemotret Singapura dari 881 entry hanya terpilih 9, 87 % saja atau 87 foto.

Pada deretan foto pemenang, pemotret Indonesia lumayan juga prestasinya. Yaitu dari 75 penghargaan yang tersedia, pemotret Indonesia berhasil memperoleh 18 penghargaan dengan perolehan tertinggi medali perunggu pada kategori monokrom atas nama Hendro Darmawan. Dari total nilai untuk seluruh peserta pada seluruh kategori alias juara umum yang dimenangkan oleh Josef Palfrader ( Austria ), Indonesia memperoleh tempat kedua atas nama Dedy H. Siswandi ( Bandung ).

Hasil lengkap foto pemenang dan terpilih dapat dilihat di www.sipa.org.sg

Juri pegang peranan penting.

Dengan melihat jalannya penjurian tiga kategori secara penuh dan melihat foto – foto pemenang pada semua kategori, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

Terlihat kecenderungan sebagian besar peserta masih mengirimkan foto dengan tema yang biasanya populer di salonfoto, yaitu foto yang menitik beratkan pada keindahan visual atau biasa disebut pictorial photography.

Sebagian besar pandangan juri dalam menilai masih tetap konvensional. Pada semua kategori bahkan juga pada kategori Nature, Travel dan Experimental, tampak juri masih menilai seperti saat mereka menilai foto piktorial yang sangat menekankan keindahan visual belaka. Mestinya penekanan penilaian dilihat dan disesuaikan dari masing-masing kategorinya, semisal pada kategori nature dtitik beratkan benar-benar pada sisi nature-nya, kategori travel pada identitas dan keunikan tempat dimana subjek berada, sedangkan pada kategori experimental ( di Indonesia sering disebut kreatif – inovatif ) diuatamakan pada konsep dan idenya.

Kesimpulannya, perubahan nama even dengan menghilangkan kata salonfoto belum membawa hasil yang memuaskan. Foto pemenang dan foto accepted sebagian besar masih menampilkan foto klise dengan menonjolkan kekuatan sisi pictorial dan lighting- nya saja. Mungkin ini disebabkan karena masih dalam masa peralihan dan sesuatu yang baru bagi para peserta , juga para juri. Memang tidak mudah merubah kebiasaan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Tapi usaha dari PSS ini sungguh patut kita beri apresiasi.yang baik. Dan untuk ke depannya yang paling penting adalah merubah pandangan para juri dalam memberikan penilaian, sehingga nantinya para juri berani memberi nilai tinggi pada foto-foto dengan cara ungkap, konsep bagus serta ide yang baru.Sebaliknya memberi nilai rendah pada foto yang sudah klise serta miskin wacana, meskipun mempunyai teknik dan lighting yang ciamik !.

Bagaimana dengan Salonfoto Indonesia ?

Salonfoto Indonesia yang diselenggarakan oleh FPSI sejak tahun 1973 mempunyai kecenderungan yang sama dengan salonfoto lainnya. Foto – foto klise dari tahun ketahun masih saja muncul. Bahkan foto-foto pemenang utama di Salonfoto Indonesia paling gres, tahun 2006, tidak banyak bedanya dengan foto yang ada di katalog salonfoto bertahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya sudah ada upaya pembaharuan yaitu dengan menyelenggarakan Kontes Foto Inovasi pada tahun 2001 oleh klub foto Hisfa Yogyakarta. Pada even ini jelas sekali penilaian juri dititik beratkan pada konsep dan wacana fotonya. Tapi dengan alasan yang tidak jelas, program ini malah dihentikan.

Kalau ingin salonfoto tidak ditinggalkan para pemotret ( yang berpikiran maju ) dan dihargai lebih baik oleh masyarakat seni pada umumnya ( secara jujur harus diakui bahwa senifoto di Indonesia belum mendapat perhatian dari komunitas/ kritikus/ kolektor seni pada umumnya ) , memang harus ada perubahan yang cukup signifikan terutama pada cara pandang juri dalam memberikan penilaian. Sehingga nantinya para peserta akan mengikuti juga cara penilaian juri yang menghargai sesuatu yang baru dan segar. Perubahan nama dengan sekedar menghilangkan kata salonfoto akan sia-sia saja jika tanpa disertai perubahan cara pandang juri dan peserta.n


About this entry