De facto – Komputer bekas perluas penetrasi komputer di Indonesia

Delivery order

Delivery Order

 

Terlepas dari anggapan pro dan kontra tentang masuknya limbah berbahaya dari teknologi, tidak dapat dipungkiri bahwa peredaran komputer bekas (second) di negeri kita keberadaan maupun peranannya sangat besar terhadap penetrasi penggunaan komputer oleh masyarakat. Tidak peduli kalangan mampu atau tidak, jika untuk keperluan tertentu misalnya kasir atau gudang dan tempat lain yang tidak krusial, komputer bekas masih menjadi alternatif pilihan untuk menekan biaya. Sekolah, warnet, wartel maupun sampai penggunaan di rumah khususnya di daerah pinggir kota sebagian besar mereka menggunakan benda ini sebagai jawaban akan kebutuhan komputer. Apa daya harga komputer yang termasuk tinggi bagi kalangan masyarakat ekonomi lemah, di sisi lain kebutuhan akan komputer tidak terelakkan.

Dari sudut bisnis komputer, seorang pengusaha komputer mengatakan pada penulis bahwa, bisnis komputer bekas lebih menguntungkan ketimbang komputer baru. Marjin keuntungan komputer baru hanya berkisar sepuluh persen dan itupun jika terjadi kerusakan, pedagang masih harus menanggung risiko garansi setahun untuk biaya perbaikan, retur dan lain-lain. Berdagang komputer bekas marjin keuntungan dapat mencapai limapuluh hingga tujuh puluh lima persen dengan umur garansi yang hanya seminggu. Permasalahan komputer dan barang -barang teknologi informasi bekas ini masih menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi pembuat kebijakan negeri ini demi menuju masyarakat Indonesia yang berbasis pada pengetahuan (knowledge based society). Teks dan foto : Lendy Widayana


About this entry