[2006] Buku. “Waton Urip” adalah berani hidup tanpa memberontak terhadap hidup.

Untuk cari makan, orang harus berani bekerja apa pun.
Kalau biasanya mbecak, mengapa tidak ? Lagi pula, mengapa saya tidak boleh mbecak, kalau saya memang kuat ? Saya hanya punya bau (tenaga). Punyanya hanya itu, mengapa harus malu ?

Itulah penuturan Ponirah, perempuan tukang becak yang hidup di dusun Njeblog, Tirtonirmolo, Yogyakarta dalam buku Waton Urip setebal 144 halaman garapan Sindhunata penulis naskah, Agus Leonardus sang fotografer dan Ong Hari Wahyu sebagai penata grafis. Sebuah buku yang bertutur tentang makna kehidupan para tukang becak di Yogyakarta, Surakarta dan Purwokerto hasil riset fotografer kawakan Indonesia, Agus Leonardus. Tidak berlebihan jika buku inipun mengisyaratkan sebuah makna kehidupan bagi kita umat manusia, bahwa Apa Yang Diberikan hidup, diterima. Apa yang tidak diberikan hidup, jangan diminta (bagian akhir buku Waton Urip).

Di kota Malang, Jawa Timur tanggal 27 Januari 2006, Wakil Walikota Malang, Drs. Bambang Priyo Utomo, BSc. beserta Ibu Walikota Malang, Dra. Heni Puji Utami Peni Suparto membuka pemeran foto Waton Urip karya Agus Leonardus. Uniknya, peresmian pameran yang ditandai pemotongan tumpeng ini dihadiri pula oleh puluhan tukang becak Malang. Pada malam hari yang sama, dilangsungkan bedah buku Waton Urip yang dihadiri oleh para pecinta foto, sastrawan dan perupa Jawa Timur. (Teks & foto-foto : Lendy Widayana)

 

 


Agus Leonardus

 


Bedah buku Waton Urip di Perpustakaan Umum Kota Malang
27 Januari 2006.  Dari kanan, fotografer Agus Leonardus,
budayawan Sindhunata, moderator, disainer grafis Ong Hari Wahyu.

 


Ong Hari Wahyu

 


Ibu Walikota Malang, Dra. Heni Puji Utami Peni Suparto
(kanan) sesaat setelah membuka pameran.

 


Salah satu foto karya Agus Leonardus yang dipamerkan.

 


Miskan, salah seorang tukang becak di kota Malang
yang turut mengikuti pembukaan pameran.

 

 

 


About this entry