“Foto, foto mas.. mbak… langsung jadi”
Kalimat di judul cerita ini adalah tawaran Pak Yahyo (47) kepada pengunjung Candi Penataran, Blitar-Jawa Timur. Pak Yahyo memotret sejak tahun 1979. Pada masa itu tentu ia masih menggunakan kamera analog.

Di tengah arus digitalisasi yang masuk ke ranah fotografi, kecintaan terhadap profesi dan demi mempertahankan hidup membuat Pak Yahyo harus menyesuaikan diri dengan tuntutan jaman. Pada tahun 2002 iapun mengganti kamera polaroid dengan kamera saku digital lengkap dengan sebuah printer digital. Hingga kini ayah enam anak ini masih menekuni profesinya menjadi tukang foto “siap saji” di kompleks Candi Penataran.


Sepintas kotak kayu berisi printer digital terkesan seperti kotak ular. Catu daya listrik
untuk printer dan charger baterai kamera itarik dengan seutas kabel yang disambung
dari rumah warga di sekitar candi.

Jika sedang ramai, Pak Yahyo bisa mengantongi Rp. 50.000.- setiap hari. Tapi tidak jarang ia pulang tanpa hasil. Iapun mengakui bahwa semakin banyaknya telepon selular yang dilengkapi dengan kamera dan kamera saku digital mempengaruhi pendapatannya. Namun tak jarang pula sekelompok orang atau keluarga yang lebih puas jika memperoleh dokumentasi dari hasil jasa Pak Yahyo. (Teks & foto : Lendy Widayana)
About this entry
You’re currently reading ““Foto, foto mas.. mbak… langsung jadi”,” an entry on PhotoJournalist
- Published:
- Tuesday, 30 January 2007 / 11:38 pm
- Category:
- Teknologi Informasi
- Tags:
13 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]